Di Indonesia, HIV juga merupakan masalah kesehatan penting. Prevalensi HIV diperkirakan mencapai sekitar 0,7% dari populasi dewasa, atau sekitar 1,9 juta orang, meskipun tak semua telah teridentifikasi secara resmi. Hingga Oktober 2025, lebih dari 385.000 orang telah mengetahui status HIV mereka, sementara lebih dari 259.000 orang menerima terapi antiretroviral (ARV)
Anda Mau Konsultasi, hubungi Contact Person kami :
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah infeksi yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel darah putih yang disebut sel CD4. HIV menghancurkan sel CD4 ini, sehingga melemahkan kekebalan seseorang terhadap infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis dan infeksi jamur, infeksi bakteri parah, dan beberapa jenis kanker.
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah tahap akhir dari infeksi HIV, di mana sistem kekebalan tubuh telah rusak parah sehingga tidak lagi mampu melawan infeksi atau penyakit tertentu.
WHO menganjurkan agar setiap orang yang berisiko tertular HIV harus mengakses pengujian. Orang yang berisiko tinggi tertular HIV harus mencari layanan pencegahan, pengujian, dan perawatan HIV yang komprehensif dan efektif. Infeksi HIV dapat didiagnosis menggunakan tes diagnostik cepat yang sederhana dan terjangkau, serta tes mandiri. Penting bagi layanan pengujian HIV untuk mengikuti 5C: persetujuan, kerahasiaan, konseling, hasil yang benar, dan keterhubungan dengan perawatan dan layanan lainnya.
Orang yang didiagnosis dengan HIV harus ditawarkan dan dihubungkan dengan pengobatan antiretroviral (ART) sesegera mungkin setelah diagnosis dan dipantau secara berkala menggunakan parameter klinis dan laboratorium, termasuk tes untuk mengukur virus dalam darah (viral load). Jika ART dilakukan secara konsisten, pengobatan ini juga mencegah penularan HIV ke orang lain.
Gejala-gejala HIV dan AIDS dapat bervariasi, tetapi umumnya mencakup:
Saat seseorang telah melalui tahap infeksi primer akut dan proses serokonversi, pengidapnya sering kali sudah merasa lebih baik. Faktanya memang HIV mungkin tidak menyebabkan gejala lainnya bahkan hingga 10 atau 15 tahun, bergantung pada kondisi seseorang yang terserang. Meski begitu, virus tetap aktif menginfeksi dan mereplikasi. Pengidapnya dapat menularkan HIV pada tahap ini dan menyebabkan kerusakan pada sistem imun jika tidak diobati.
Pada tahap ini tidak muncul gejala yang berat, banyak orang merasa baik-baik saja lalu tidak periksa atau tidak minum obat, padahal di dalam tubuh kerusakan sistem imun terus berjalan. Penderita masih bisa menularkan HIV meskipun kelihatan sehat.
Gejala-gejala ini bisa mirip penyakit lain, jadi pemeriksaan darah adalah satu-satunya cara pasti untuk memastikan seseorang terinfeksi HIV. Deteksi dini dan pengobatan ARV (Antiretroviral) sangat penting untuk mencegah masuk ke tahap AIDS.
Penularan HIV utamanya terjadi melalui perpindahan cairan tubuh tertentu dari orang yang terinfeksi ke aliran darah orang lain. Penting untuk diketahui bahwa tidak semua cairan tubuh dapat menularkan HIV. Cairan tubuh yang dapat menularkan virus HIV meliputi: